10 March 2008

Kambing dan Singa

Cerita ini saya baca dari buku karangan Habiburrahman El Shirazy, yang berjudul KETIKA CINTA BERTASBIH II. Dan saya coba kutip kembali di Blog ini, semoga bermanfaat bagi kita yang lagi dalam pencarian jiwa "Singa" dalam diri kita.

---------------------------------------------------
Alkisah, di sebuah belantara hutan ada seekor induk singa yang
mati setelah melahirkan anaknya. Bayi singa yang lemah itu hidup
tanpa perlindungan induknya. Beberapa waktu kemudian, serombongan
kambing datang melintasi tempat itu. Bayi singa itu
menggerak-gerakkan tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing
tergerak hatinya.Ia merasa iba melihat anak singa yang lemah dan
hidup sebatang kara. Dan terbitlah nalurinya untuk merawat dan
melindungi bayi singa.

Sang induk lalu menghampiri bayi singa itu dan membelai dengan
penuh kehangatan dan kasih sayang. Merasakan hangatnya kasih
sayang seperti itu, bayi singa tak mau berpisah dengan sang induk
kambing. Ia terus mengikuti kemana saja induk kambing pergi.
Jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing itu.
Hari berganti hari, dan anak singa tumbuh dan besar dalam asuhan
induk kambing dan hidup dalam komunitas kambing. Ia menyusu,
makan, minum, bermain bersama anak - anak kambing lainnya.
Tingkah lakunya juga sama persis layaknya kambung, bahkan anak
singa yang mulai beranjak besar itu pun mengeluarkan suara
layaknya kambing. Ia mengembik, bukan mengaum!.

Ia merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambing -
kambing lainnya. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya
adalah seekor singa.

Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor serigala buas
masuk memburu kambing untuk di mangsa. Kambing - kambing
berlarian panik. Semua ketakutan. Induk kambing yang juga
ketakutan meminta anak singa itu untuk menghadapi serigala.

"Kamu singa, cepat hadapi serigala itu! cukup keluarkan aumanmu
yang keras dan serigala itu pasti lari ketakutan!" kata induk

kambing pada anak singa yang sudah tampak besar dan kekar.
Tapi anak singa yang sejak kecil hidup di tengah - tengah
komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung
di balik tubuh induk kambing. Ia berteriak sekeras -kerasnya dan
yang keluar dari mulutnya adalah suara embikan. Sama seperti
kambing yang lain, bukan auman. Anak singa itu tidak bisa berbuat
apa-apa ketika salah satu anak kambing yang tak lain adalah
saudara sesusuannya di terkam dan di bawa lari serigala.
Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas di makan
serigala. Ia menatap anak singa dengan perasaan nanar dan marah.

"Seharusnya kamu bisa membela kami! Seharusnya kamu bisa
menyelamatkan saudaramu! seharusnya kau bisa mengusir serigala
yang jahat itu!".

Anak singa itu hanya bisa menunduk. Ia tidak faham dengan maksud
perkataan induk kambing. Ia sendiri merasa takut pada serigala
sebagaimana kambing-kambing yang lain. Anak singa itu merasa
sangat sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa.

Hari berikutnya serigala ganas itu datang lagi. Kembali memburu
kambing-kambing untuk di santap. Kali ini induk kambing
tertangkap dan telah di cengkeram oleh serigala. Semua kambing
tidak ada yang berani menolong. Anak singa itu tidak kuasa
melihat induk kambing yang telah ia anggap sebagai ibunya di
cengkeram serigala. Dengan nekad ia lari dan menyeruduk serigala
tersebut. Serigala kaget bukan kepalang melihat ada seekor singa
di hadapannya. Ia melepaskan cengkeramannya.
Serigala itu gemetar ketakutan! Nyalinya habis! Ia pasrah, ia
merasa hari itu adalah akhir hidupnya!

Dengan kemarahan yang luar biasa anak singa itu berteriak keras,

"Embiiiiikkk!"

Lalu ia mundur ke belakang. Mengambil ancang-ancang untuk
menyeruduk lagi.

Melihat tingkah anak singa itu, serigala yang ganas dan licik itu
langsung tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah singa yang
bermental kambing. Tak ada bedanya dengan kambing.

Seketika itu juga ketakutannya hilang. Ia menggeram marah dan
siap memangsang kambing bertubuh singa itu! Atau singa yang
bermental kambing itu!

Saat anak singa itu menerjang dengan menyerudukkan kepalanya
layaknya kambing, sang serigala telah siap dengan kuda-kudanya
yang kuat. Dengan sedikit berkelit, serigala itu merobek wajah
anak singa itu dengan cakarnya.

Anak singa itu terjerembab dan mengaduh, seperti kambing
mengaduh. Sementara induk kambing menyaksikan peristiwa itu
dengan rasa cemas yang luar biasa. Induk kambing itu heran,
kenapa singa yang kekar itu kalah dengan serigala. Bukankah singa
adalah raja hutan ?

Tanpa memberi ampun sedikitpun serigala itu menyerang anak singa
yang masih mengaduh itu. Serigala itu siap menghabisi nyawa anak
singa itu. Di saat yang kritis itu, induk kambing yang tidak
tega, dengan sekuat tenaga menerjang sang serigala. Sang seriala
terpelanting. Anak singa bangun.
Dan pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan auman yang
dahsyat!

Semua kambing ketakutan dan merapat! Anak singa itu juga ikut
takut dan ikut merapat. Sementara sang serigala langsung lari
terbirit-birit. Saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing
itu, ia terkejut di tengah-tengah kawanan kambing itu ada seekor
anak singa.

Beberapa ekor kambing lari, yang lain langsung lari. Anak singa
itu langsung ikut lari. Singa itu masih tertegun. Ia heran kenapa
anak singa itu langsung ikut lari mengikuti kambing? Ia mengejar
anak singa itu dan berkata,

"Hai kamu jangan lari! Kamu anak singa, bukan kambing! aku tak
akan memangsa anak singa!"

Namun anak singa itu terus lari dan lari. Singa dewasa itu terus
mengejar. Ia tak jadi mengejar kawanan kambing, tapi malah
mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap, anak
singa itu ketakutan.

"Jangan bunuh aku, ammpuuuun!"
"Kau anak singa, bukan anak kambing. Aku tidak membunuh anak
singa!"

Dengan meronta-ronta anak singa itu berkata, "Tidak, aku anak
kambing! Tolong lepaskan aku!"

Anak singa itu meronta dan berteriak keras. Suaranya bukan auman
tapi suara embikan, persis seperti suara kambing.

Sang singa dewasa heran bukan main. Bagaimana mungkin ada anak
singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram ia
menyeret singa itu ke danau. Ia harus menunjukkan siapa
sebenarnya anak singa itu. Begitu sampai di danau yang jernih
airnya, ia meminta anak singa itu melihat bayangan dirinya
sendiri. Lalu membandingkan dengan singa dewasa
Beitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut,"Oh, rupa
dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa, si raja hutan!"

"Ya, karena kamu sebenarnya anak singa. Bukan anak kambing!"

Tegas singa dewasa.

"Jadi aku bukan kambing? Aku adalah seekor singa!"
"Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa dan di
takuti oleh seluruh isi hutan! Ayo aku ajari bagaimana menjadi
seekor raja hutan!" Kata sang singa dewasa.

Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan
mengaum dengan keras. Anak singa itu lalu menirukan, dan mengaum
dengan keras. Ya, mengaum, menggetarkan seantero hutan. Tak jauh
dari situ, serigala ganas itu lari semakin kencang, ia ketakutan
mendengar auman anak singa itu.
Anak singa itu kembali berteriak penuh kemenangan, "Aku adalah
seekor singa! Raja hutan yang gagah perkasa!"

Singa dewasa tersenyum bahagia mendengarnya.


*Di kutip dari buku habiburrahman el shirazy, KETIKA CINTA
BERTASBIH II, halaman 391 - 395*